Kamis, 20 Juli 2017

Membangun Pabrik Kelapa Sawit Mini (Part 2)

Yang dimaksud dengan pabrik kelapa sawit mini (PKSM) adalah sebuah unit pabrik yang digunakan untuk mengolah tandan buah segar kelapa sawit (TBS) dan berondolan, menjadi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), dengan kapasitas olah lima ton TBS perjam atau kurang.  Dengan asumsi satu hari adalah 22 jam kerja (2 jam adalah masa kumulatif perbaikan), maka satu unit PKSM dalam satu hari maksimal dapat mengolah TBS sebanyak 110 ton.

Ditinjau dari segi kemampuan olah jenisnya, PKSM terbagi dua. Yang pertama adalah yang hanya mampu menghasilkan CPO; dan yang kedua adalah yang juga mampu menghasilkan palm kernel oil (PKO) atau minyak inti sawit. Pada PKSM yang hanya mampu menghasilkan CPO, kernel dijual dalam bentuk butiran utuh. Tentu saja setelah kernel dipisahkan dari cangkangnya.

Beberapa pengusaha bahkan membangun PKSM dengan produk akhir minyak makan curah. Tentu saja biaya pembangunan PKSM model begini akan sedikit lebih besar, tetapi juga dengan margin yang lebih baik.

Sebelum memutuskan untuk membangun PKSM, seorang calon pembangun PKSM haruslah menghitung dahulu, apakah cita-citanya itu sudah layak untuk diwujudkan atau sebaiknya ditunda dulu. Jangan sampai, setelah banyak modal yang dikucurkan, tetapi hasil yang diperoleh ternyata mengecewakan.

Ada banyak faktor yang harus diperhitungkan secara mendetail sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada sebuah PKSM. Misalnya ketersediaan modal pembangunan, kemampuan mendapatkan izin dari pihak berwenang, kondisi sosial, ketersediaan lahan, ketersediaan  bahan baku, varietas mayoritas tanaman kelapa sawit yang ada, harga TBS, harga CPO, harga kernel, harga PKO, harga asam tinggi, harga cangkang, besaran UMR, ketersediaan air, biaya  mobilitas/transportasi,  dan lainnya. Semua hal ini diperhitungkan dalam langkah pertama, yakni tahapan project feasibility study (PFS). Hal paling mendasar yang harus dilakukan dalam project feasibility study ini adalah survey lapangan. Dengan survey langsung ke lapangan, perhitungan nilai investasi dan nilai margin yang lebih mendekati tetapan bisa dilakukan, hingga pada gilirannya  dapat diputuskan apakah sebuah PKSM layak dibangun di tempat itu atau tidak.  

Jika tahapan ini tidak mampu dilakukan oleh calon pemilik PKSM, maka kami dapat membantu menyelesaikannya.

Terkadang, pihak calon pemilik PKSM meminta untuk dibuatkan rencana anggaran biaya membangun satu unit PKSM hanya dengan mengirimkan data yang minim. Padahal, hal itu dapat menyebabkan selisih perhitungan yang lumayan besar. Besaran dana pembangunan satu unit PKSM berkapasitas 5 ton perjam di satu daerah bisa berbeda cukup besar dibandingkan bila dibangun di daerah lain. Karena itu, survey lapangan oleh tim ahli sifatnya adalah wajib.

Menurut pengalaman kami, ada juga pihak yang tetap menginginkan dibangunkan sebuah PKSM, meski pun menurut  hasil PFS potensi marginnya tidaklah terlalu besar. Hal ini bisa terjadi karena pada musim panen raya, TBS miliknya sering tidak terjual, atau terjual dengan harga yang terlalu murah. Ada juga yang bersikeras membangun PKSM karena pada musim hujan, biaya transportasi terlalu mahal, atau TBS sudah menurun mutunya ketika sampai di PKS yang membeli, akibat sarana jalan yang kurang mendukung. Intinya, banyak juga pengusaha yang membangun PKSM bukanlah semata untuk mencari keuntungan besar , tetapi lebih karena ingin menghindari kerugian yang lebih besar.

Setelah PFS dinyatakan layak, maka tahapan selanjutnya adalah pembangunan fisik unit-unit pengolah pada PKSM. Pembangunan meliputi penyesuaian lahan, pembangunan pondasi, pengadaan dan pemasangan mesin-mesin pengolah, pemasangan instalasi pipa dan listrik, dll.

Ketika semua tahapan pembangunan fisik diselesaikan, maka selanjutnya PKSM yang sudah terbentuk dijalankan tanpa beban terlebih dahulu (running test). Mesin-mesin dan perangkat lainnya digerakkan tanpa diberi beban TBS atau berondolan. Pada tahapan ini, semua calon pekerja sudah harus ikut pelatihan praktek kerja. Jika running test dinyatakan clear, maka tahapan seterusnya adalah ujicoba pengolahan.  Jika ujicoba pengolahan dinyatakan belum clear, maka dilakukan perbaikan seperlunya.

Setelah ujicoba pengolahan selesai, maka masuklah masa produksi. Biasanya masa produksi awal ini juga adalah masa garansi. Bentuk dan tenggat waktu garansi dibuat berdasarkan kesepakatan antara pemilik dan kontraktor.  

Pada dasarnya, jenis dan cara kerja  unit-unit mesin pengolah pada PKSM adalah sama dengan unit-unit mesin pengolah pada PKS menengah atau PKS besar. Yang berbeda hanya kapasitasnya.


Diantara kelengkapan dan unit-unit mesin pengolah itu adalah :


boiler (a), sterilizer (b), thresher (c), screw press (d), clarification tank (e), digester (f), fruit elevator (g), ripple mill (h), fibrating screen (i), dan tangki penampungan (j)

Selain unit-unit utama di atas, PKSM masih harus memiliki beberapa unit pendukung lainnya seperti timbangan truk, peron stok TBS, perpipaan, sumur bor (bila tidak ada sumber air murah lainnya), genset (bila PLN tidak memadai), instalasi listrik, control room, mini lab, UPL, dan beberapa perangkat penunjang lainnya.

Benar bahwa untuk membangun PKSM membutuhkan modal yang lumayan besar, tetapi margin yang didapat juga cukup bagus, karena itulah biasanya pengusaha PKSM bisa balik modal dalam waktu kurang dari tiga tahun.

Kunci utama kesuksesan menjalankan usaha PKSM adalah disiplin pekerja, pengawasan dan manejerial. Tanpa ketiganya, sulit untuk bisa berhasil dengan baik. Bagian yang paling rawan korupsi adalah bagian timbangan dan sortasi TBS. Bagian unit pengolah yang paling rawan rusak apabila pekerja lalai adalah boiler.


***Ditulis oleh Muhammad Isnaini, HP/WA.0813 7000 8997.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar