Yang dimaksud dengan pabrik kelapa sawit mini (PKSM) adalah sebuah
unit pabrik yang digunakan untuk mengolah tandan buah segar kelapa sawit (TBS)
dan berondolan, menjadi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), dengan
kapasitas olah lima ton TBS perjam atau kurang. Dengan asumsi satu hari adalah 22 jam kerja (2
jam adalah masa kumulatif perbaikan), maka satu unit PKSM dalam satu hari
maksimal dapat mengolah TBS sebanyak 110 ton.
Ditinjau dari segi kemampuan olah jenisnya, PKSM terbagi dua. Yang
pertama adalah yang hanya mampu menghasilkan CPO; dan yang kedua adalah yang
juga mampu menghasilkan palm kernel oil (PKO) atau minyak inti sawit. Pada PKSM
yang hanya mampu menghasilkan CPO, kernel dijual dalam bentuk butiran utuh.
Tentu saja setelah kernel dipisahkan dari cangkangnya.
Beberapa pengusaha bahkan membangun PKSM dengan produk akhir minyak
makan curah. Tentu saja biaya pembangunan PKSM model begini akan sedikit lebih
besar, tetapi juga dengan margin yang lebih baik.
Sebelum memutuskan untuk membangun PKSM, seorang calon pembangun PKSM
haruslah menghitung dahulu, apakah cita-citanya itu sudah layak untuk
diwujudkan atau sebaiknya ditunda dulu. Jangan sampai, setelah banyak modal
yang dikucurkan, tetapi hasil yang diperoleh ternyata mengecewakan.
Ada banyak faktor yang harus diperhitungkan secara mendetail sebelum
memutuskan untuk berinvestasi pada sebuah PKSM. Misalnya ketersediaan modal
pembangunan, kemampuan mendapatkan izin dari pihak berwenang, kondisi sosial, ketersediaan
lahan, ketersediaan bahan baku, varietas
mayoritas tanaman kelapa sawit yang ada, harga TBS, harga CPO, harga kernel,
harga PKO, harga asam tinggi, harga cangkang, besaran UMR, ketersediaan air,
biaya mobilitas/transportasi, dan lainnya. Semua hal ini diperhitungkan
dalam langkah pertama, yakni tahapan project feasibility study (PFS). Hal
paling mendasar yang harus dilakukan dalam project feasibility study ini adalah
survey lapangan. Dengan survey langsung ke lapangan, perhitungan nilai
investasi dan nilai margin yang lebih mendekati tetapan bisa dilakukan, hingga
pada gilirannya dapat diputuskan apakah
sebuah PKSM layak dibangun di tempat itu atau tidak.
Jika tahapan ini tidak mampu dilakukan oleh calon pemilik PKSM, maka
kami dapat membantu menyelesaikannya.
Terkadang, pihak calon pemilik PKSM meminta untuk dibuatkan rencana
anggaran biaya membangun satu unit PKSM hanya dengan mengirimkan data yang
minim. Padahal, hal itu dapat menyebabkan selisih perhitungan yang lumayan
besar. Besaran dana pembangunan satu unit PKSM berkapasitas 5 ton perjam di
satu daerah bisa berbeda cukup besar dibandingkan bila dibangun di daerah lain.
Karena itu, survey lapangan oleh tim ahli sifatnya adalah wajib.
Menurut pengalaman kami, ada juga pihak yang tetap menginginkan
dibangunkan sebuah PKSM, meski pun menurut hasil PFS potensi marginnya tidaklah terlalu
besar. Hal ini bisa terjadi karena pada musim panen raya, TBS miliknya sering
tidak terjual, atau terjual dengan harga yang terlalu murah. Ada juga yang
bersikeras membangun PKSM karena pada musim hujan, biaya transportasi terlalu
mahal, atau TBS sudah menurun mutunya ketika sampai di PKS yang membeli, akibat
sarana jalan yang kurang mendukung. Intinya, banyak juga pengusaha yang
membangun PKSM bukanlah semata untuk mencari keuntungan besar , tetapi lebih
karena ingin menghindari kerugian yang lebih besar.
Setelah PFS dinyatakan layak, maka tahapan selanjutnya adalah
pembangunan fisik unit-unit pengolah pada PKSM. Pembangunan meliputi
penyesuaian lahan, pembangunan pondasi, pengadaan dan pemasangan mesin-mesin
pengolah, pemasangan instalasi pipa dan listrik, dll.
Ketika semua tahapan pembangunan fisik diselesaikan, maka selanjutnya
PKSM yang sudah terbentuk dijalankan tanpa beban terlebih dahulu (running test).
Mesin-mesin dan perangkat lainnya digerakkan tanpa diberi beban TBS atau
berondolan. Pada tahapan ini, semua calon pekerja sudah harus ikut pelatihan
praktek kerja. Jika running test dinyatakan clear, maka tahapan seterusnya
adalah ujicoba pengolahan. Jika ujicoba
pengolahan dinyatakan belum clear, maka dilakukan perbaikan seperlunya.
Setelah ujicoba pengolahan selesai, maka masuklah masa produksi.
Biasanya masa produksi awal ini juga adalah masa garansi. Bentuk dan tenggat
waktu garansi dibuat berdasarkan kesepakatan antara pemilik dan kontraktor.
Pada dasarnya, jenis dan cara kerja unit-unit mesin pengolah pada PKSM adalah sama
dengan unit-unit mesin pengolah pada PKS menengah atau PKS besar. Yang berbeda
hanya kapasitasnya.
Diantara kelengkapan dan unit-unit mesin pengolah itu adalah :
boiler (a), sterilizer (b), thresher (c),
screw press (d), clarification tank (e), digester (f), fruit elevator (g), ripple mill (h), fibrating
screen (i), dan tangki penampungan (j)
Selain unit-unit utama di atas, PKSM masih
harus memiliki beberapa unit pendukung lainnya seperti timbangan truk, peron
stok TBS, perpipaan, sumur bor (bila tidak ada sumber air murah lainnya), genset
(bila PLN tidak memadai), instalasi listrik, control room, mini lab, UPL, dan beberapa
perangkat penunjang lainnya.
Benar bahwa untuk membangun PKSM membutuhkan
modal yang lumayan besar, tetapi margin yang didapat juga cukup bagus, karena
itulah biasanya pengusaha PKSM bisa balik modal dalam waktu kurang dari tiga
tahun.
Kunci utama kesuksesan menjalankan usaha PKSM
adalah disiplin pekerja, pengawasan dan manejerial. Tanpa ketiganya, sulit
untuk bisa berhasil dengan baik. Bagian yang paling rawan korupsi adalah bagian
timbangan dan sortasi TBS. Bagian unit pengolah yang paling rawan rusak apabila
pekerja lalai adalah boiler.
***Ditulis oleh Muhammad Isnaini, HP/WA.0813 7000 8997.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar